Resign dengan Profesional

Kita pasti sudah banyak membaca dan mendengar mengenai profesionalitas dalam dunia kerja, tentang bagaimana kita bekerja, bagaimana kita berpenampilan, bagaimana kita berinteraksi dengan rekan dan atasan, hingga tentang bagaimana profesionalitas menyangkut hal-hal teknis macam manajemen waktu dan cara mengatasi masalah. Nah, sedikit yang membahas tentang etika resign yang baik, yang profesional.

Resign dengan cara yang baik diperlukan karena itu adalah etika atau sopan santun yang mencitrakan diri kita, siapa kita sebenarnya. Dan bisa jadi, mempengaruhi masa depan kita. Ketika kita bergabung dengan perusahaan, tentu kita diterima dengan baik, maka alangkah baiknya jika mengundurkan diri juga dengan cara yang baik juga. Sama halnya ketika ada tamu yang datang ke rumah kita, tentu dia akan mengetuk pintu terlebih dahulu, dan berpamitan ketika meninggalkan rumah.

Beberapa cara resign yang profesional menurut saya, diantaranya adalah:

  1. Baca aturan perusahaan tentang pengunduran diri. Biasanya tertera ketika mengundurkan diri, maka pengunduran efektif berlaku satu bulan setelah pengajuan. Hal ini berkaitan dengan alih-tugas dengan rekan lain, pengurusan administrasi (perhitungan tanggungan, asuransi, pajak, dll) dan lain sebagainya.
  2. Komunikasikan terlebih dahulu secara personal dengan atasan, agar atasan dapat mempersiapkan team dengan baik pasca pengunduran diri kita. Ini juga adalah etika permisi dengan orang yang kita hormati dan orang yang sudah banyak membantu kita.
  3. Ajukan surat pengunduran diri secara tertulis dan legal kepada bagian yang berwenang
  4. Bersama atasan, siapkan skenario serah-terima tanggung jawab kepada rekan kerja
  5. Kembalikan fasilitas kerja yang dipinjamkan kepada bagian yang berwenang
  6. Traktir makan rekan-rekan kerja di restoran paling enak. Eh, ini optional 😀
  7. Ucapkan terima kasih kepada rekan kerja, atasan, dan juga OB yang telah banyak membantu selama bekerja

Etika diperlukan dalam setiap kehidupan kita, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain. Etika yang baik, mencitrakan siapa diri kita sebenarnya. 🙂

Berbagi itu bahagia

Share

cita-cita ini berawal di tahun pertama kuliah, tahun yang sama saat saya bergabung dengan unit kegitan mahasiswa, SCeN Club namanya. ketika itu ada sesi sharing pengalaman dari anggota senior, kelewat senior malah. dia sudah masuk dunia kerja waktu itu.

bahasannya menarik, terlihat dari mata teman-teman yang terlihat takjub. dan memang di bangku kuliah belum diajarkan. tak akan diajarkan. begitulah silabus di negeri ini, ada gap menganga antara mata kuliah untuk sarjana dengan dunia kerja. tak sambung.

“bertahun dari sekarang, kita yang akan di depan. memberi sharing”. begitu kata saya pada teman di sebelah. Continue reading “Berbagi itu bahagia”

Kerja Kerja Kerja (tepatkah ?)

Setahun yang lalu Indonesia mempunyai presiden baru, seorang putra Solo, berbadan kurus dengan prestasi dengan grafik eksponensial yang menakjubkan dalam 5 tahun terakhir. Terpilih kedua kalinya menjadi walikota Solo, menanjak menjadi gubernur DKI Jakarta, kemudian melesat menjadi pemimpin negeri yang indah ini. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi.

Sang Presiden punya jargon mahsyur, hingga menjadi nama untuk kabinetnya, “kerja kerja kerja”. Berikutnya, kita semua tahu, begitu banyak pekerjaan buat Jokowi dan kabinetnya. KPK v Polri, penentuan harga BBM, rupiah yang mengalah lawan dollar hingga kebakaran hutan (dan tentu masih banyak yang lainnya).

Kita semua mahfum bahwa tanpa ditambahpun, pekerjaan seorang Presiden lebih dari cukup untuk bisa diselesaikan selama masa menjabatnya. Tapi saya kok jadi kepikiran bahwa banyak pekerjaan presiden yang sifatnya baru, baru muncul setelah Jokowi menjabat. Atau dengan kalimat gaya warung kopi: Jokowi bikin masalah baru karena keputusannya. Tentu hal ini bisa diperdebatkan, tapi saya tidak tertarik mendebatkan apa saja masalah itu, tetapi mengenai bagaimana hubungan antara jargon dengan masalah baru yang timbul.

“Kerja kerja kerja” bisa sejalan apabila ada pekerjaan/masalah yang harus diselesaikan. Bila tidak ada pekerjaan/masalah ya tidak kerja, maka jargon tersebut tidak laku. Artinya, ntah ada hubungannya atau tidak, jargon tersebut mengundang timbulnya masalah baru. Bukankah perkataan adalah doa ? dan Tuhan menhabulkan permintaannya. Continue reading “Kerja Kerja Kerja (tepatkah ?)”

Menonton acara televisi lokal mematikan kreativitas

25 tahun terakhir adalah revolusi tersendiri di Indonesia. Sejak stasiun tv (terutama swasta) mulai bermunculan. menurut survey nielsen, 95% penduduk indonesia adalah penonton televisi, atau 3x lipat pengguna internet! Dimana menurut KPI, anak-anak duduk menikmati acara televisi selama 1600 jam per tahun, bandingkan dengan jumlah jam mereka di sekolah yang hanya 740 jam.

Continue reading “Menonton acara televisi lokal mematikan kreativitas”

bbm

Menikmati kopi sambil mengobrol tentang BBM

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada Jokowi yang sudah terpilih untuk memimpin negeri ini dalam 5 tahun ke depan. semoga amanah 🙂

Ternyata menarik mengikuti masa transisi dari SBY ke Jokowi, dan keduanya setuju untuk melakukan transisi semulus mungkin meskipun berbeda partai. salah satu bahasan adalah mengenai harga BBM, apakah akan dinaikkan di masa SBY atau nanti saat Jokowi mempimpin. *atau apakah harga BBM harus naik?

Ya.. apakah harga BBM harus naik?

Pendapat yang sering muncul adalah bahwa penikmat BBM bersubsidi adalah orang-orang kaya dengan mobil-mobil mereka. Apakah benar? sampai saat ini belum ada riset pasti apakah hal itu benar.

Menurut saya begini, mobil-mobil mahal orang-orang kaya tentu emoh menggunakan BBM bersubsidi yang oktannya rendah itu, mobil mewah akan cepat rusak. Jadi kecil kemungkinan mereka menggunakan BBM bersubsidi.

Kemudian, berapa banyak sih jumlah manusia (dan kendaraannya serta konsumsi BBM subsidinya) yang disebut sebagai orang-orang kaya tadi? Contoh simple adalah ketika lebaran kemarin orang-orang kaya tentu akan lebih mudah membeli tiket pesawat untuk mudik daripada harus bermacet-macet ria di jalan.

Bandingkan pula dengan ketika distribusi BBM kemarin dibatasi, siapakah yang paling banyak mengantri? sebagai catatan, jangan hanya lihat Jakarta, lihatlah keseluruhan INDONESIA!

Jumlah pengguna sepeda motor tentu jauh lebih banyak daripada mobil mewah. Dan siapa pengguna sepeda motor? ya kita-kita juga.

Sekali lagi, belum ada riset pasti mengenai jumlah ini.

Kemudian apa langkah yang bisa dilakukan? satu yang pasti adalah dengan disiplin melakukan efisiensi. Buat anggaran belanja secukupnya dan dukung BUMN untuk maju.

Kata orang, biaya hidup itu murah, yang mahal adalah biaya untuk lifestyle, untuk gaya. Sama seperti manusia atau keluarga, negara pun demikian.

Langkah menteri BUMN juga harus diapresiasi, dengan menggabungkan BUMN semen menjadi Semen Indonesia, maka modal akan lebih kuat dan bisa ekspansi ke luar negeri. Inilah saatnya kita keluar kandang!

Bagi saya pribadi, subsidi BBM adalah salah satu pengaplikasian bahwa pemerintah mensejahterkan rakyatnya. 🙂

2 minggu tak cukuplah, pak!

Saat postingan ini dirilis, sudah 2x Komisi Pemilihan Umum menggelar Debat Capres. Tapi sekarang saya tidak mau mengomentari atau bahkan mendukung salah satu calon. Saya hanya berharap bahwa calon yang terpilih istiqomah menjalankan tugasnya dan selalu ingat Tuhan dalam setiap langkah dan kebijakannya.

Saya kali ini tertarik dengan salah satu solusi dari Capres Jokowi mengenai penggunaan kartu dan mengubah sistem untuk mengurangi korupsi anggaran dan efisiensi dalam pelayanan publik. Continue reading “2 minggu tak cukuplah, pak!”