Kepedulian Sosial Seorang Mukmin

Sudah sepertiga Ramadhan kita lewati. Selama itulah kita pernah merasakan lapar dalam kurun setahun ini. merasakan lapar, merupakan pengalaman yang berharga. Dibandingkan bila kita hanya mendengar adanya orang yang kelaparan; atau kita membaca berita ada orang yang mati kelaparan.

Kita menahan lapar tidak sampai mati. Karena, saat azan magrib tiba, kita terkadang melakukan balas dendam dengan menyantap segala makanan yang tersedia di meja makan.

Kita mau menahan lapar karena menuruti perintah Allah Ta’ala. tapi, tahukah kita di luar sana banyak kaum muslimin yang harus menahan lapar karena tanpa diperintah, karena itulah status hidup mereka. Tidak ada makana yang cukup membuat mereka kenyang sepanjang hari. tidur dalam keadaan lapar; bangun juga tidak menemukan makanan tersedia di depan mata.

Mereka tidak punya harta untuk membeli makanan bukan karena mereka pemalas. Mereka orang tua renta, yang sudah sepuh, tidak sanggup melangkah kaki; tidak mampu mengayun tangan untuk bekerja. Terkadang mereka harus memberi makan cucu mereka yang ditinggal yatim oleh orang tuanya.

Allah Ta’ala memanggil kita sebagai kaum mukminin untuk berpuasa, seperti dalam firmannya dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat ke-184. Tapi, pantaskah kita disebut sebagai orang mukmin kalau kita memahami sabda Rasulullah ini?

” ليس المؤمن الذي يشبع و جاره جائع إلى جنبه ”

Artinya: Tidak bisa disebut dirinya seorang mukmin, bila ia kenyang di rumahnya, sedangkan ada tetangganya yang kelaparan (HR. Bukhari di kitab Adab Mufrad)

Ada dua kesalahan fatal yang dilakukan orang yang kenyang tersebut sehingga dicela oleh Rasulullah dalam hadits ini:

Pertama: Ia tidak peduli terhadap orang lapar, sedangkan ia bisa merasakan kenyang dan mampu berbagi makanan

Kedua: Ia tidak peduli dengan tetangganya. Orang paling dekat rumahnya dengan dirinya. Seharusnya, dialah orang pertama mengetahui keadaan tetangganya sehari-hari. Tanpa bertanya kepada pejabat kelurahan pun ia musti tahu kekurangmampuan tetangganya.

Seorang mukmin harus jeli

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa termasuk orang bodoh adalah orang yang tidak jeli melihat tanda-tanda kemiskinan pada seseorang.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

Artinnya: (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang tidak mampu berjihad di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di muka bumi; orang yang jahil menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu bisa mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. (QS. Al Baqarah: 273)

Kalau sering berkunjung ke rumah tetangga, dan membukan mata dengan jeli; membuka hati dengan teliti, pasti akan terlihat tanda-tanda yang dibutuhkan oleh tetangga kita.

Melihat baju anaknya kumal yang tak pernah diganti; melihat belanjaannya beras jagung dan singkong; melihat anaknya dirawat di rumah sakit; sudah tua renta masih mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk kayu bakar; tanda-tanda itu dan juga tanda lainnya sebenarnya sudah cupun untuk menggugah hati kita untuk membantu.

Apakah kita masih menunggu agar tetangga kita datang untuk meminta di depan pintu rumah kita?? Sungguh kita orang tidak berperasaan bila bersikap sepert itu.

Dalam Al Quran Surat Az Zariyat ayat ke-19, Allah Ta’ala sebutkan salah satu sifat orang bertaqwa adalah:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Artinya: Di dalam harta mereka ada hak yang ditunaikan untuk peminta-minta dan juga orang mahrum.

Yang dimaksud orang mahrum adalah orang yang butuh tapi tidak mau meminta pada orang lain

Semoga di bulan Ramadhan ini kita bisa meraih gelar muttakin dengan amal puasa kita dan juga dengan amal sedekah kita.

Aamiin

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *