Kerja Kerja Kerja (tepatkah ?)

Setahun yang lalu Indonesia mempunyai presiden baru, seorang putra Solo, berbadan kurus dengan prestasi dengan grafik eksponensial yang menakjubkan dalam 5 tahun terakhir. Terpilih kedua kalinya menjadi walikota Solo, menanjak menjadi gubernur DKI Jakarta, kemudian melesat menjadi pemimpin negeri yang indah ini. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi.

Sang Presiden punya jargon mahsyur, hingga menjadi nama untuk kabinetnya, “kerja kerja kerja”. Berikutnya, kita semua tahu, begitu banyak pekerjaan buat Jokowi dan kabinetnya. KPK v Polri, penentuan harga BBM, rupiah yang mengalah lawan dollar hingga kebakaran hutan (dan tentu masih banyak yang lainnya).

Kita semua mahfum bahwa tanpa ditambahpun, pekerjaan seorang Presiden lebih dari cukup untuk bisa diselesaikan selama masa menjabatnya. Tapi saya kok jadi kepikiran bahwa banyak pekerjaan presiden yang sifatnya baru, baru muncul setelah Jokowi menjabat. Atau dengan kalimat gaya warung kopi: Jokowi bikin masalah baru karena keputusannya. Tentu hal ini bisa diperdebatkan, tapi saya tidak tertarik mendebatkan apa saja masalah itu, tetapi mengenai bagaimana hubungan antara jargon dengan masalah baru yang timbul.

“Kerja kerja kerja” bisa sejalan apabila ada pekerjaan/masalah yang harus diselesaikan. Bila tidak ada pekerjaan/masalah ya tidak kerja, maka jargon tersebut tidak laku. Artinya, ntah ada hubungannya atau tidak, jargon tersebut mengundang timbulnya masalah baru. Bukankah perkataan adalah doa ? dan Tuhan menhabulkan permintaannya.

Setuju ? ini hanya obrolan ringan, tak perlu terlampau serius 🙂

Saya sendiri punya jargon jagoan (ya kali aja pak Jokowi mampir ke blog ini dan menjadi inspirasi buatnya). seperti misalnya: Doa, Kerja, Tawakkal (berserah diri kepada Tuhan).

Doa menjadi kata kunci pertama karena dengan doa sebelum bekerja, maka Tuhan akan menuntun kita dalam bekerja, agar jalan yang dilalui dimudahkan oleh-Nya. *ngapain mempersulit diri jika Tuhan sudah memudahkan ?

Doa menjadi kata kunci pertama juga karena Tuhan memiliki solusi atas semua masalah di dunia ini. Jika Tuhan punya solusinya, tak perlu kita ngotot mengagungkan akal pikiran kita yang terbatas untuk dapat menyelesaikan masalah.

Berikutnya: semua tahu bahwa rejeki ada di tangan Tuhan. Jika kita tidak meminta dan BERGERAK, maka rejeki ya tetap di tangan Tuhan. Hehehe… Disinilah giliran kita yang bekerja, berusaha sebaik mungkin, dengan cara yang direstui Tuhan. Bukan dengan korupsi, ngemplang uang pajak, bakar hutan, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Tuhan tidak suka itu.

Akhirnya, setelah berdoa agar Tuhan menuntun kita, kemudian kita bekerja sesuai tuntunannya, maka hal terakhir yang bisa dilakukan adalah berserah diri kepada Sang Maha Kuasa, Sang Raja Semesta Alam. Apapun yang kita kerjakan, sekeras apapun kita bekerja, bila Tuhan tidak berkendak, maka tidak akan terjadi. Kita harus sadar sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang menentukan dan ketentuan Tuhanlah yang terbaik bagi kita.

Semoga Allah membimbing bapak presiden dan kabinetnya, para wakil rakyat, dan juga seluruh rakyat negeri ini.

Semoga Allah merahmati bangsa ini, bangsa yang saya cintai, bangsa Indonesia.

Selamat berdoa, bekerja, dan bertawakkal. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *