Makna tersembunyi Idul Adha

Idul Adha

Ignore judulnya, saya hanya membuat judul sedikit provokatif agar terlihat lebih menarik seperti dalam tips menulis blog agar banyak visitornya. 🙂

Saya sendiri hanya mau menulis apa yang baru saya pelajari. Yap, meskipun sudah hampir 30 hidup dalam keadaan Islam, tapi saya merasa masih banyak yang saya tidak paham. Dan bodohnya, saya tidak berjuang mempelajarinya. Hanya sekedar membaca dan ikut hadir dalam pengajian dan kajian.

Tulisan ini saya buat menjelang Idul Adha, kurang dari sepuluh hari lagi. Sebelumnya saya (lebih) sering mendengar bahwa Idul Adha adalah peristiwa yang mencontohkan mengenai pengorbanan. Apa yang sudah diberikan Allah maka korbankan atau sedekahkan karena sebagian dari apa yang kita miliki ada hak orang lain. Tentu saja. Dan itu sama sekali tidak salah.

Ternyata ada pelajaran lain yang menarik bagi saya. Bahwasanya peristiwa Idul Adha adalah contoh ajaran tauhid paling luar biasa. Dan Nabi Ibrahim adalah termausk orang yang paling sukses dalam ketauhidan. Beliau belajar (dan diajari oleh Allah) sejak masih kecil. Ingat cerita bagaimana beliau mencari Tuhannya ketika masih berusia muda:

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.”

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-An’am: 74 – 78)

Dan berbagai cerita luar biasa lain (yang juga membuat kita merinding bila membacanya secara perlahan) seiiring pertumbuhan usia beliau.

Kembali ke bahasan sebelumnya mengenai Idul Adha dan Tauhid. Mari kita perhatikan seksama QS.Ash-Shaffat: 102-105:

Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar””.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

“Dan Kami panggillah dia:”Hai Ibrahim,”

“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Luar biasa bukan ?

Ayolah, Anda pasti tahu dimana letak keluarbiasaan Tauhidnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *