Menonton acara televisi lokal mematikan kreativitas

25 tahun terakhir adalah revolusi tersendiri di Indonesia. Sejak stasiun tv (terutama swasta) mulai bermunculan. menurut survey nielsen, 95% penduduk indonesia adalah penonton televisi, atau 3x lipat pengguna internet! Dimana menurut KPI, anak-anak duduk menikmati acara televisi selama 1600 jam per tahun, bandingkan dengan jumlah jam mereka di sekolah yang hanya 740 jam.

Apapun yang namanya berlebihan pasti berbahaya, termasuk menonton televisi, ya karena:

1. Isi acara yang serupa
Ini hal mudah yang pasti sudah disadari semua orang. Ketika satu stasiun sukses membuat ajang pencarian bakat, tv lain mengikuti. Ketika satu stasiun tv sukses membuat acara joget-joget yang lain latah.
Mengkonsumsi satu hal yang sama setiap hari hanya akan meredam api kreativitas. Tentu anda pasti ingat cerita tentang gajah liar yang dirantai setiap hari. Suatu ketika terjadi kebakaran di kandangnya, meski pawangnya sudah melepas rantainya, gajah tersebut tidak berlari karena dia yang dia tahu adalah dia sedang dirantai.

2. Membahas satu hal secara berlebihan
Coba ingat berapa lama stasiun televisi, televisi berita utamanya, membahas tentang KPK vs Polri, tentang KIH vs KMP, banjir Jakarta atau tentang hal-hal lain selama berminggu-minggu dalam porsi besar dan mengemasnya seakan-akan bila hal tersebut tidak selesai maka akan kiamat.
Kita terlalu banyak disajikan porsi politik, dan melupakan keberhasilan bidang lainnya. kita lebih sering memakan cerita perselisihan dan pesimisme, daripada hal positif dan motivasi.

3. Terbatas pada sisi fun
Bila kita perhatikan sejenak prime time televisi, antara jam 6 sore hingga 9 malam, rata-rata berisi banyak guyonan sedikit isi. Bagaikan makan mie goreng pakai nasi yang banyak ditambah sepotong sosis kecil. Terlalu banyak karbohidrat memang bikin cepat kenyang, tapi tidak akan bertahan lama dan sedikit diserap tubuh.

Ada jutaan cara diluar sana untuk mengatasi haus hiburan. melahap buku-buku berkualitas, pergi backpack untuk menikmati keindahan ribuan pulau di Indonesia, atau berlari di lapangan futsal bersama sahabat. Saya yakin hal tersebut akan lebih memberi makna bagi hidup kita daripada berlama-lama duduk di depan televisi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *