Ibu ku JUARA!

Ah siang ini, pas lagi asyik-asyiknya ngobrol dengan kakak tentang jodoh, ya tentang jodoh, dapet interupt. Kakak mengalihkan obrolan yang melalui whatsapp itu: “coba telpon ibu, rumah habis kemalingan. uang, buku tabungan, dan perhiasan hilang”.

astaghfirullah

kemudian saya menelepon ibu:

“Assalamualaikum.. ibu, ada kabar apa di rumah?”

“Waalaikumsalam, rumah dimasuki orang. alhamdulillah tv, tape, vcd, komputer gak diambil. tapi perhiasan, uang dan buku tabungan diambil. gak papa, semuanya cuman titipan Allah.”

“Brapa uang yang diambil, bu?”

“Sudah, ibu tidak menghitungnya. semua titipan Allah”.

dua jawaban singkat dari ibu. singkat, tapi buat saya itu jawaban betapa hebatnya ibu.

terima kasih ya Allah, Engkau menurunkan ku melalui rahim seorang ibu yang sangat hebat. Ibu, aku menyayangi mu karena Allah.

Kakek-berdoa

Ucapan mu adalah doa mu

Ada peribahasa ‘mulut mu adalah harimau‘ mu yang kemudian dimodernkan menjadi ‘tweet mu adalah harimau mu‘ yang kurang lebih mengandung arti agar kita berhati-hati dengan segala ucapan kita. Saya sendiri lebih tenang bila mengucapkan ucapan (mulut) mu adalah doa mu.

Hal tersebut terjadi lagi ketika kemarin ada teman kantor yang istrinya baru melahirkan setelah mereka menikah lebih dari 3 tahun. Usut punya usut, ternyata dia mengakui kalau dia pernah berucap:

“saya akan punya anak ketika berumur 30 tahun”.

Dikabulkan! Tahun ini dia sudah menginjak umur 30 tahun. Saat mengucapkannya pun bukan dalam keadaan setelah sholat atau ibadah lain, dia berucap ya dengan santai, saat ngobrol dengan teman-teman yang lain. Mengucapkannya pun sebelum menikah 🙂 Continue reading “Ucapan mu adalah doa mu”

Kepedulian Sosial Seorang Mukmin

Sudah sepertiga Ramadhan kita lewati. Selama itulah kita pernah merasakan lapar dalam kurun setahun ini. merasakan lapar, merupakan pengalaman yang berharga. Dibandingkan bila kita hanya mendengar adanya orang yang kelaparan; atau kita membaca berita ada orang yang mati kelaparan.

Kita menahan lapar tidak sampai mati. Karena, saat azan magrib tiba, kita terkadang melakukan balas dendam dengan menyantap segala makanan yang tersedia di meja makan.

Kita mau menahan lapar karena menuruti perintah Allah Ta’ala. tapi, tahukah kita di luar sana banyak kaum muslimin yang harus menahan lapar karena tanpa diperintah, karena itulah status hidup mereka. Tidak ada makana yang cukup membuat mereka kenyang sepanjang hari. tidur dalam keadaan lapar; bangun juga tidak menemukan makanan tersedia di depan mata.

Mereka tidak punya harta untuk membeli makanan bukan karena mereka pemalas. Mereka orang tua renta, yang sudah sepuh, tidak sanggup melangkah kaki; tidak mampu mengayun tangan untuk bekerja. Terkadang mereka harus memberi makan cucu mereka yang ditinggal yatim oleh orang tuanya.

Allah Ta’ala memanggil kita sebagai kaum mukminin untuk berpuasa, seperti dalam firmannya dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat ke-184. Tapi, pantaskah kita disebut sebagai orang mukmin kalau kita memahami sabda Rasulullah ini? Continue reading “Kepedulian Sosial Seorang Mukmin”