Sebut Saja Angkanya

uang

Adalah suatu hal yang lumrah ketika pada saat intervew kerja, pelamar diberikan pertanyaan mengenai berapa gaji yang diinginkan. Hal bisa menurut saya, karena (bagi saya) pekerjaan adalah saling kecocokan, sama seperti mencari pasangan. kalo ga cocok ya ga bisa berlanjut.

Dari beberapa kali kesempatan, ketika saya menjadi interviewer, menanyakan hal tersebut kepada pelamar. Beberapa diantaranya tidak berani menyebut angka, atau bahkan menyebutkannya dengan nada ragu. Hal ini saya temukan (sebagian besar diantaranya) adalah dari pelamar yang berasal dari daerah atau kota penyangga/kota kecil. Entah karena minder, tidak tahu ‘harga’, atau memang tidak terbiasa.

Bagi saya (interviewer) ketika seseorang menyebutkan angka, maka dia tahu target apa yang dia inginkan. Hal ini tentu baik untuk pekerjaan, bukan karena mengejar nilainya, tapi dia tahu apa yang harus dia kerjakan. Maka dia akan melakukan segala hal untuk mencapai target yang dibebankan (sesuai dengan gaji yang dia inginkan).

Lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara menyebut angkanya? Continue reading “Sebut Saja Angkanya”

Kerja Kerja Kerja (tepatkah ?)

Setahun yang lalu Indonesia mempunyai presiden baru, seorang putra Solo, berbadan kurus dengan prestasi dengan grafik eksponensial yang menakjubkan dalam 5 tahun terakhir. Terpilih kedua kalinya menjadi walikota Solo, menanjak menjadi gubernur DKI Jakarta, kemudian melesat menjadi pemimpin negeri yang indah ini. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi.

Sang Presiden punya jargon mahsyur, hingga menjadi nama untuk kabinetnya, “kerja kerja kerja”. Berikutnya, kita semua tahu, begitu banyak pekerjaan buat Jokowi dan kabinetnya. KPK v Polri, penentuan harga BBM, rupiah yang mengalah lawan dollar hingga kebakaran hutan (dan tentu masih banyak yang lainnya).

Kita semua mahfum bahwa tanpa ditambahpun, pekerjaan seorang Presiden lebih dari cukup untuk bisa diselesaikan selama masa menjabatnya. Tapi saya kok jadi kepikiran bahwa banyak pekerjaan presiden yang sifatnya baru, baru muncul setelah Jokowi menjabat. Atau dengan kalimat gaya warung kopi: Jokowi bikin masalah baru karena keputusannya. Tentu hal ini bisa diperdebatkan, tapi saya tidak tertarik mendebatkan apa saja masalah itu, tetapi mengenai bagaimana hubungan antara jargon dengan masalah baru yang timbul.

“Kerja kerja kerja” bisa sejalan apabila ada pekerjaan/masalah yang harus diselesaikan. Bila tidak ada pekerjaan/masalah ya tidak kerja, maka jargon tersebut tidak laku. Artinya, ntah ada hubungannya atau tidak, jargon tersebut mengundang timbulnya masalah baru. Bukankah perkataan adalah doa ? dan Tuhan menhabulkan permintaannya. Continue reading “Kerja Kerja Kerja (tepatkah ?)”